Minggu, 08 Januari 2012

Belajar Ilmu Terawangan


Di jaman yang sudah modern ini, banyak orang-orang untuk belajar menguasai Ilmu Terawangan. Banyak pula dari kalangan atas hingga bawah yang berduyun duyun mendatangi Paranormal yang tujuannya mempelajari Ilmu Terawangan. Tapi tanpa kita sadari, semua perburuan mendapatkan Ilmu Terawangan kadang dimanfaatkan oleh oknum-oknum paranormal yang tidak bertanggung jawab, yang membuat kita merasa dapat menguasai ilmu terawangan untuk menembus alam ghaib dengan imbalan / mahar yang gila gilaan gede nya. Lucunya, orang yang mengaku "BISA" mengantar kita untuk melihat alam alam gaib tersebut. belum pernah ke tempat gaib tersebut. Sehingga tidak heran, banyak para peminat ilmu terawangan yang merasa tertipu dan dibohongi. Kalau mau di pikir pikir sudah berapa banyak biaya yang di keluarkan, belum lagi waktunya. Mengapa banyak peminat ILMU TERAWANGAN ini, walaupun sudah membayar mahal tetap belum bisa menguasai ILMU TERAWANGAN ini?? Intinya, mereka belum mengetahui secara benar tata caranya. Maka dari itu saya ingin share kepada para peminat ILMU TERAWANGAN ini segala syarat dan dasar untuk menguasainya. Semoga bermanfaat!!! Ada 3 tingkatan yang harus dikuasai secara bertahap 1. ILMU PENERAWANGAN MEDITASI TAK BERATURAN - Ambilah posisi duduk bersila, kedua tangan diatas lutut. - Pejamkan mata - Berdoa kepada Allah AWT, untuk meminta keselamatan dan perlindungan dalam melakukan semedi meditasi - Kemudian tarik nafas dan tahan beberapa lama kemudian hembuskan nafas, lakukan beberapa kali untuk menenangkan pikiran - Setelah pikiran tenang kemudian konsentrasikan segala pikiran, rasa , karsa, cipta pada keluar masuknya napas. Napas dalam keadaan biasa/tidak menahan napas, jadi napas seperti biasa - Latihlah meditasi tingkat 1 ini selama kurang lebih 1 hingga 2 minggu. Lama latihan 1 jam. Untuk pemula latihan dianjurkan pada jam 12 malam dan berada ditempat yang gelap. - Setelah anda berlatih pada jam 12 malam dan telah berhasil melihat bayangan-bayangan alam ghaib, maka selanjutnya anda latihan semedi meditasi pada siang hari. - Jika anda sudah bisa melihat bayangan alam ghaib, alam nyata, alam roh baik pada siang hari maupun malam hari, anda tingkatkan untuk melanjutkan semedi meditasi tingkat 2 2. MEDITASI TINGKAT 2 PENYEARAHAN Caranya : lakukan semedi meditasi seperti cara semedi meditasi tingkat Satu - Latihan dilakukan pada jam 12 malam, lama latihan 1 jam - Ketika berdoa kepada Allah SWT, mintalah tujuan serta niat yang mau kita lihat misalkan minta melihat alam ghaib, alam nyata. Jadi nanti yang terlihat akan sesuai dengan tujuan yang kita niatkan. - Setelah anda mampu melihat bayangan alam ghaib penyearahan pada malam hari,
dilanjutkan latihan pada siang hari - Setelah kita dapat melihat alam ghaib, alam nyata, alam roh pada siang hari, kita bisa melanjutkan ilmu penerawangan semedi meditasi tingkat 3 3. ILMU PENERAWANGAN MEDITASI PENYEARAHAN TINGKAT TIGA (3) - Latihan dilakukan pada jam 12 malam - Lakukan semedi meditasi seperti cara semedi tingkat 1 - Ketika membaca permohonan doa kepada Allah SWT, niatkan tujuan yang mau kita lihat, apakah alam ghaib, alam nyata, dan alam roh - Anda harus berusaha dalam melatih tingkat 3 ini bayangan yang terlihat harus sesuai dengan kehendak bathin, dan bayangan tersebut terlihat dalam jangka waktu 5 hingga 10 menit, jadi dalam waktu singkat anda mampu melihat alam yang anda kehendaki - Setelah anda mampu melihat alam yang anda kehendaki dalam waktu 5 hingga 10 menit diwaktu malam hari, sekarang anda latih pada siang hari. - Setelah anda mampu menguasai ilmu penerawangan tingkat 3 dan anda sudah dapat berkomunikasi dengan makhluk halus berarti anda sudah menguasai ilmu penerawangan dengan sempurna.
SEMOGA METODE DALAM EBOOK INI BERMANFAAT BAGI
PEMBURU ILMU TERAWANGAN

Rabu, 21 Desember 2011

Metode Menyerap Energi Metafisika


Untuk menambah daya batin yang kita miliki agar semakin besar, maka kita dapat melakukan penyerapan energi tambahan metafisika dari alam, misalnya dari air, bintang, matahari dan lain sebagainya. Berikut ini cara melatihnya.
A. Menyerap Energi AIR Banyak diantara pendekar Jawa yang waskita melakukan laku kungkum (berendam dalam air) untuk mendapatkan kesaktian . Dibalik itu semua, ternyata air memiliki daya energi yang dapat kita serap sebagai energi tambahan. · Berendamlah dalam sungai atau sendang. Boleh juga pada pemandian atau bak air buatan. Duduklah pacta batu di dasarnya sampai sebatas leher. Pejamkan mata, atur nafas dan konsentrasi. · Tarik nafas halus dan panjang kemudian tahan sekuatnya di perut sugestikan dalam hati :"Ya Allah, berilah aku energi dari air". Lakukan sampai tubuh panas dan bergetar. Lepaskan nafas, lalu tarik kembali -> tahan -> lepas. Seterusnya demikian. · Lakukan selama 30 menit Bayangkan kotoran-kotoran yang ada dalam tubuh anda terbuang bersih. · Kalau bisa, bermeditasilah dalam air. B. Menyerap Energi MATAHARI (SOLAR) Penyerapan energi matahari ini sebaiknya anda kerjakan mulai pukul 06.00. Bisa selama 20 atau 30 menit. Batas waktu yang baik adalah pukul 08.00. · Duduk muslim. Tangan kiri ditekuk di atas, telapak tangan menghadap kedepan. Tangan kanan menghadap solar plexus dan sekitarnya (boleh ditempelkan). Mata terpejam. Atur konsentrasi. · Tehnik nafas pelan dan panjang, lalu simpan di bawah perut. Sugestikan dalam hati : “Ya Allah berilah, aku daya matahari". Rasakan daya matahari yang masuk melalui telapak tangan kiri anda dan getaran-getaran halus – panas merasuk dalam tubuh melalui telapak tangan kanan. Bayangkan pancaran sinar kuning merasuk dalam tubuh anda membakar kotoran-kotoran dan baksil-baksil penyakit. Lepaskan nafas kemudian ulangi lagi. Lakukanlah sekali seminggu. C. Menyerap Energi BUMI Usahakan memakai celana pendek saja dan duduk muslim menyentuh tanah langsung. · Duduk muslim. Tempelkan pergelangan tangan pada lutut masing-masing dengan telapak menghadap kebawah. Atur konsentrasi. · Kemudian tarik nafas dan tahan nafas dibawah perut. Rasakan adanya energi magnetis yang terserap melalui kedua telapak tangan anda. sugestikan dalam hati : "Ya Allah,berilah aku energi Bumi". Setelah bergetar dan panas lepaskan nafas. Ulangi lagi. · Lakukan 10 kali transfer. Lakukan 2 kali seminggu.
D. Menyerap Energi AWAN Begini cara melatihnya : · Duduk Muslim, konsentrasi, kemudian tarik nafas halus panjang sambil mengangkat tangan ke alas menyamping kanan kiri, kedua telapak tangan menghadap ke atas menyamping. Tahan nafas sambil bersugesti : “Ya Allah berilah aku energi Awan". Mata terpejam. · Lalu anda bayangkan dan rasakan bahwa telapak tangan anda sedang menyentuh awan yang halus - lembut dan rasakan resapan energinya . Setelah tubuh bergetar dan panas lepaskan nafas. Latih 5 - 10 kali. Lakukan 2 kali seminggu. E. Menyerap Energi BINTANG Latihan ini berfungsi untuk mendapatkan pagaran energi sinar metafisika. Berlatihnya pada malam hari yang tidak mendung. · Berdiri tegak, kedua tangan direntang ke samping lurus horisontal. Telapak tangan menghadap ke depan. Mata terkonsentrasi penuh pada gugusan bintang berkilauan dilangit. Kemudia pejamkan mata dan bayangkan gugusan bintang tersebut dengan jelas dan sarna. Tarik nafas dalam dan tahan di bawah perot. Sugestikan : "Ya Allah berilah aku perisai sinar dari bintang". · Lalu bayangkan kemilau gugus bintang tersebut memancarkan sinar putih yang menyelimuti tubuh anda yang semakin menebal. Jika tubuh bergetar dan panas, lepaskan ! nafas sambil membayangkan anda memutuskan pancaran sinar tersebut. Dan tubuh anda tetap berkilau. · Ulangi sampai 3 kali. Bayangkan selimut sinar makin menebal. · Lakukan 2 kali seminggu.
Semoga Metode Tersebut Dapat Bermanfaat Bagi Anda Pencinta Ilmu Kebatinan

Cara buat "Readmore" pada Blogger



Banyaknya permintaan mengenai cara buat readmore membuat saya tetap mengharuskan artikel ini ditulis. walaupun
tutorial cara buat readmore sudah banyak ditulis oleh rekan blogger, sayangnya penjelasan yang diberikan kadang
tidak mudah dimengerti dan malah membuat bingung, untuk itu tidak ada salahnya saya juga menulis artikel ini sebagai
pelengkap agar mempermudah blogger baru bisa lebih mengerti cara membuat readmore serta cara penggunanan kode
readmore pada posting.
Mungkin rekan blogger yang baru mulai membuat blog masih bingung apa itu readmore? Readmore adalah
pemenggalan kalimat pada posting suatu halaman, Pemenggalan halaman posting biasanya ditandai dengan "Read
More", "Next", "Baca Selanjutnya", "Baca berikutnya", "Selengkapnya" atau apalah namanya :). Readmore biasanya
digunakan untuk menandai bahwa kalimat pada posting masih mempunyai kelanjutan, dan juga berguna
mempersingkat halaman posting yang panjang. Pengen tau cara buatnya?
Contoh ReadMore :
Pernah menemukan pesan seperti diatas?...jika pernah jangan panik, ini hanya pesan pemberitahuan dari
blogger kalau layanan sedang melakukan perbaikan maintenance pada server. pesan ini hanya berlangsung
kurang lebih beberapa menit setelah itu akan normal kembali. Semoga informasi ini membantu :)Readmore.. »
Untuk membuat readmore ikuti langkah dibawah ini :
Langkah Pertama:
Buka Template - Edit HTML - Berikan tanda centang pada "Expand widget template"
Langkah Kedua:
Jangan Lupa backup blogger dengan mengklik "dowlnoad template lengkap"
Langkah Ketiga:
Cari kode dibawah ini:
<div class='post-header-line-1'/> <div class='post-body'>
Tips : Untuk mempermudah pencarian kode diatas sebaiknya ikuti tips berikut ini. pertama kamu buka program text
editor misalnya notepad.exe ( Pada MS Windows tekan menu Start -> Proggram -> Accessories -> Notepad) kemudian
kopy/paste kode HTML tadi ke notepad. kemudian pada notepad pilih Menu Edit -> Find. pada box find masukan kode
ini <div class='post-header-line-1'/> kemudian klik tombol Find next. (jika masih gak ketemu terpaksa kita melakukan
pencarian secara manual)
Jika sudah menemukan kode diatas, Copy-Paste kode dibawah ini kemudian letakan kode tersebut dibawah
<b:if cond='data:blog.pageType == "item"'>
<style>.fullpost{display:inline;}</style>
<p><data:post.body/></p>
<b:else/>
<style>.fullpost{display:none;}</style>
Kemudian dibawah kode diatas kita akan menemukan kode:
<p><data:post.body/></p>
Lakukan Copy-Paste kode dibawah ini dibawah code diatas
<a expr:href='data:post.url'>Readmore »»</a>
</b:if>
Tips: Kode Readmore diatas bisa ganti dengan kalimat sendiri (contoh "Baca Selanjutnya", "Baca berikutnya",
"Selengkapnya")
Kode selengkapnya jika dilihat akan tampak sebagai berikut:
<div class='post-header-line-1'/>
<div class='post-body'>
<b:if cond='data:blog.pageType == "item"'>
<style>.fullpost{display:inline;}</style>
<p><data:post.body/></p>
<b:else/>
<style>.fullpost{display:none;}</style>
<p><data:post.body/></p>
<a expr:href='data:post.url'>Readmore »»</a>
</b:if>
<div style='clear: both;'/>
Jika kita mengedit langsung pada halaman blogger Edit HTML dan semua kode diatas sudah dilakukan perubahan,
jangan lupa disimpan ya :)
Ini jika kita menggunakan Text Editor Notepad : Setelah melakukan pengeditan kode pada notepad, lalu hapus semua
kode yang ada pada halaman edit blogger, kemudian masukan seluruh kode pada notepad tadi dengan cara
copy/paste) Sampai disini pengeditan kode selesai, jangan lupa disimpan.
Langkah Empat
Setelah kode diatas disimpan kita kembali dan masuk ke tab Pengaturan -> Format -> cari "Post Template" Kemudian
pada kotak masukan kode dibawah ini
<div class="fullpost">
</div>
Jangan lupa disimpan :)
Langkah Kelima :
Disini saya akan menjelaskan cara penggunaan readmore pada halaman posting. Ketika kita melakukan posting
pertama kali kita akan melihat kode:
<div class="fullpost">

</div>
ingat jangan hapus kode diatas karena kode tersebut merupakan kode yang akan kita gunakan dalam pemenggalan
posting nantinya.
Sebagai contoh lihat cuplikan kalimat dibawah:
Tips of the day merupakan tips singkat yang akan disampaikan kepada pengunjung seriap hari, Tips ini
bisa berisi apa saja, bisa berupa Tips Bisnis, Tips memasak, Tips merawat mobil, Tips money online, Tips bercinta
atau apalah terserah :), Asal jangan tips blogging karena dah punya om hehehe (emang siapa om ya :). (Dini
rencana text yang akan dipenggal) Sebenarnya Tips of the day disini cuma istilah saja...tips yang akan kita buat nanti
bukan disampaikan setiap hari melainkan tips ini akan berganti ketika pengunjung melakukan refresh atau reload
pada halaman blog.
Bagaimana cara pemenggalan kode diatas? caranya tinggal kamu lihat 2 kode pemenggalan kalimat dibawah (ingat
kode hanya bekerja pada halaman editor posting)
Tips of the day merupakan tips singkat yang akan disampaikan kepada pengunjung seriap hari, Tips ini
bisa berisi apa saja, bisa berupa Tips Bisnis, Tips memasak, Tips merawat mobil, Tips money online, Tips bercinta
atau apalah terserah :), Asal jangan tips blogging karena dah punya om hehehe (emang siapa om ya :). <div
class="fullpost"> Sebenarnya Tips of the day disini cuma istilah saja...tips yang akan kita buat nanti bukan
disampaikan setiap hari melainkan tips ini akan berganti ketika pengunjung melakukan refresh atau reload pada
halaman blog.</div>
Jadi hasil posting pada halaman browser akan tampai sebagai berikut:
Tips of the day merupakan tips singkat yang akan disampaikan kepada pengunjung seriap hari, Tips ini
bisa berisi apa saja, bisa berupa Tips Bisnis, Tips memasak, Tips merawat mobil, Tips money online, Tips bercinta
atau apalah terserah :), Asal jangan tips blogging karena dah punya om hehehe (emang siapa om ya :).
Readmore »»
Selamat mencoba :) happy blogging

RIYADHOH MEMBUKA MATA BATHIN


Sebagai sumbangsih, akan kami tunjukkan kepada anda semua cara membuka mata bathin dengan mendekatkan diri/bertaqorrub kepada Allah SWT. 1. Berpuasalah 7 Senin – 7 Kamis tanpa terputus. Jadi setiap hari Senin dan Kamis, anda harus berpuasa berurutan sampai 7 kali Senin dan 7 kali Kamis tanpa terputus. Hindarilah makanan yang asalnya bernyawa. Mulailah puasa pada hari Senin tgl. 12 atau 13 atau 14 penanggalan Hijriyah pada saat bulan masih mengembang. Jangan memulai puasa pada saat tgl. 15 bulan purnama. Sediakan air hujan secukupnya. 2. Khusus pada hari Senin Permulaan Puasa, harus melakukan ritual ini pada pukul 24.00 : Sholat hajat khusus. Usai salam, tulis asma’ ini 52 X pada piring kaca, lalu lebur dengan air hujan sampai benar benar terhapus : Kemudian anda minum sambil membaca : ‘Alaa Ya’lamu man kholaq, wahuwal-lathiiful khobiir 3 X. Tentunya didahului dengan membaca basmalah. 3. Pada saat puasa, setelah sholat Isya’, anda harus mewiridkan : Yaa Khobiir 812 X dan sholawat ini 41 X : “Allaahumma sholli’alaa sayyidinaa muhammad sholaatan tuthli’unaa bihaa maqoshidal quluubi wabaarik wasallam”. 4. Pada saat puasa, setelah melakukan sholat hajat khusus, anda harus mewiridkan 9 asmaul husna ini 41 X pula : Catatan : Pada hari Senin permulaan puasa, amalan point no. 3 tetap dikerjakan sebelum ritual khusus (sesudah Isya’) dan amalan point no. 4 dikerjakan setelah melakukan ritual khusus. 5. Sedang untuk hari-hari biasa, baik antara laku atau nanti sesudah menjalani 7 Senin – 7 Kamis, anda harus mengamalkan secara rutin : a. Tiap usai Sholat Maghrib : - 9Asmaul husna 5 X - Yaa Khobiir 11 X - Sholawatnya 7 X b. Tiap usai sholat fardhu : - Baca Yaa Bathiinu 200 X atau langsung 1000 X sekaligus dalam sehari. 6. Agar lebih cepat merasakan hasilnya, tolong anda hindari daging dan telur dalam makanan sehari-hari anda. Menghindari disini, bukan berarti meniadakan sama sekali. 7. Apabila suatu saat anda ingin mengetahui hal-hal yang sifatnya tersembunyi/ghaib, maka bacakanlah : - Al Fatehah 1 X - Yaa Khobiir 11 X - Sholawatnya 7 X 8. Perbanyaklah melatih pernafasan segi empat.

Selasa, 20 Desember 2011

BLECH MOVIE


Hubungan Hadist dan Al-Quran


Al-hadits didefinisikan oleh pada umumnya ulama –seperti definisi Al-Sunnah– sebagai “Segala sesuatu yang dinisbahkan kepada Muhammad saw., baik ucapan, perbuatan dan taqrir (ketetapan), maupun sifat fisik dan psikis, baik sebelum beliau menjadi nabi maupun sesudahnya.” Ulama ushul fiqh, membatasi pengertian hadis hanya pada “ucapan-ucapan Nabi Muhammad saw. yang berkaitan dengan hukum”; sedangkan bila mencakup pula perbuatan dan taqrir beliau yang berkaitan dengan hukum, maka ketiga hal ini mereka namai Al-Sunnah. Pengertian hadis seperti yang dikemukakan oleh ulama ushul tersebut, dapat dikatakan sebagai bagian dari wahyu Allah SWT yang tidak berbeda dari segi kewajiban menaatinya dengan ketetapan-ketetapan hukum yang bersumber dari wahyu Al-Quran.
Sementara itu, ulama tafsir mengamati bahwa perintah taat kepada Allah dan Rasul-Nya yang ditemukan dalam Al-Quran dikemukakan dengan dua redaksi berbeda. Pertama adalah Athi’u Allah wa al-rasul, dan kedua adalah Athi’u Allah wa athi’u al-rasul. Perintah pertama mencakup kewajiban taat kepada beliau dalam hal-hal yang sejalan dengan perintah Allah SWT; karena itu, redaksi tersebut mencukupkan sekali saja penggunaan kata athi’u. Perintah kedua mencakup kewajiban taat kepada beliau walaupun dalam hal-hal yang tidak disebut secara eksplisit oleh Allah SWT dalam Al-Quran, bahkan kewajiban taat kepada Nabi tersebut mungkin harus dilakukan terlebih dahulu –dalam kondisi tertentu– walaupun ketika sedang melaksanakan perintah Allah SWT, sebagaimana diisyaratkan oleh kasus Ubay ibn Ka’ab yang ketika sedang shalat dipanggil oleh Rasul saw. Itu sebabnya dalam redaksi kedua di atas, kata athi’u diulang dua kali, dan atas dasar ini pula perintah taat kepada Ulu Al-’Amr tidak dibarengi dengan kata athi’u karena ketaatan terhadap mereka tidak berdiri sendiri, tetapi bersyarat dengan sejalannya perintah mereka dengan ajaran-ajaran Allah dan Rasul-Nya. (Perhatikan Firman Allah dalam QS 4:59). Menerima ketetapan Rasul saw. dengan penuh kesadaran dan kerelaan tanpa sedikit pun rasa enggan dan pembangkangan, baik pada saat ditetapkannya hukum maupun setelah itu, merupakan syarat keabsahan iman seseorang, demikian Allah bersumpah dalam Al-Quran Surah Al-Nisa’ ayat 65.

Tetapi, di sisi lain, harus diakui bahwa terdapat perbedaan yang menonjol antara hadis dan Al-Quran dari segi redaksi dan cara penyampaian atau penerimaannya. Dari segi redaksi, diyakini bahwa wahyu Al-Quran disusun langsung oleh Allah SWT. Malaikat Jibril hanya sekadar menyampaikan kepada Nabi Muhammad saw., dan beliau pun langsung menyampaikannya kepada umat, dan demikian seterusnya generasi demi generasi. Redaksi wahyu-wahyu Al-Quran itu, dapat dipastikan tidak mengalami perubahan, karena sejak diterimanya oleh Nabi, ia ditulis dan dihafal oleh sekian banyak sahabat dan kemudian disampaikan secara tawatur oleh sejumlah orang yang –menurut adat– mustahil akan sepakat berbohong. Atas dasar ini, wahyu-wahyu Al-Quran menjadi qath’iy al-wurud. Ini, berbeda dengan hadis, yang pada umumnya disampaikan oleh orang per orang dan itu pun seringkali dengan redaksi yang sedikit berbeda dengan redaksi yang diucapkan oleh Nabi saw. Di samping itu, diakui pula oleh ulama hadis bahwa walaupun pada masa sahabat sudah ada yang menulis teks-teks hadis, namun pada umumnya penyampaian atau penerimaan kebanyakan hadis-hadis yang ada sekarang hanya berdasarkan hafalan para sahabat dan tabi’in. Ini menjadikan kedudukan hadis dari segi otensititasnya adalah zhanniy al-wurud.
Walaupun demikian, itu tidak berarti terdapat keraguan terhadap keabsahan hadis karena sekian banyak faktor — baik pada diri Nabi maupun sahabat beliau, di samping kondisi sosial masyarakat ketika itu, yang topang-menopang sehingga mengantarkan generasi berikut untuk merasa tenang dan yakin akan terpeliharanya hadis-hadis Nabi saw.

Fungsi Hadis terhadap Al-Quran

Al-Quran menekankan bahwa Rasul saw. berfungsi menjelaskan maksud firman-firman Allah (QS 16:44). Penjelasan atau bayan tersebut dalam pandangan sekian banyak ulama beraneka ragam bentuk dan sifat serta fungsinya.
‘Abdul Halim Mahmud, mantan Syaikh Al-Azhar, dalam bukunya Al-Sunnah fi Makanatiha wa fi Tarikhiha menulis bahwa Sunnah mempunyai fungsi yang berhubungan dengan Al-Quran dan fungsi sehubungan dengan pembinaan hukum syara’. Dengan menunjuk kepada pendapat Al-Syafi’i dalam Al-Risalah, ‘Abdul Halim menegaskan bahwa, dalam kaitannya dengan Al-Quran, ada dua fungsi Al-Sunnah yang tidak diperselisihkan, yaitu apa yang diistilahkan oleh sementara ulama dengan bayan ta’kid dan bayan tafsir. Yang pertama sekadar menguatkan atau menggarisbawahi kembali apa yang terdapat di dalam Al-Quran, sedangkan yang kedua memperjelas, merinci, bahkan membatasi, pengertian lahir dari ayat-ayat Al-Quran.
Persoalan yang diperselisihkan adalah, apakah hadis atau Sunnah dapat berfungsi menetapkan hukum baru yang belum ditetapkan dalam Al-Quran? Kelompok yang menyetujui mendasarkan pendapatnya pada ‘ishmah (keterpeliharaan Nabi dari dosa dan kesalahan, khususnya dalam bidang syariat) apalagi sekian banyak ayat yang menunjukkan adanya wewenang kemandirian Nabi saw. untuk ditaati. Kelompok yang menolaknya berpendapat bahwa sumber hukum hanya Allah, Inn al-hukm illa lillah, sehingga Rasul pun harus merujuk kepada Allah SWT (dalam hal ini Al-Quran), ketika hendak menetapkan hukum.
Kalau persoalannya hanya terbatas seperti apa yang dikemukakan di atas, maka jalan keluarnya mungkin tidak terlalu sulit, apabila fungsi Al-Sunnah terhadap Al-Quran didefinisikan sebagai bayan murad Allah (penjelasan tentang maksud Allah) sehingga apakah ia merupakan penjelasan penguat, atau rinci, pembatas dan bahkan maupun tambahan, kesemuanya bersumber dari Allah SWT. Ketika Rasul saw. melarang seorang suami memadu istrinya dengan bibi dari pihak ibu atau bapak sang istri, yang pada zhahir-nya berbeda dengan nash ayat Al-Nisa’ ayat 24, maka pada hakikatnya penambahan tersebut adalah penjelasan dari apa yang dimaksud oleh Allah SWT dalam firman tersebut.
Tentu, jalan keluar ini tidak disepakati, bahkan persoalan akan semakin sulit jika Al-Quran yang bersifat qathi’iy al-wurud itu diperhadapkan dengan hadis yang berbeda atau bertentangan, sedangkan yang terakhir ini yang bersifat zhanniy al-wurud. Disini, pandangan para pakar sangat beragam. Muhammad Al-Ghazali dalam bukunya Al-Sunnah Al-Nabawiyyah Baina Ahl Al-Fiqh wa Ahl Al-Hadits, menyatakan bahwa “Para imam fiqih menetapkan hukum-hukum dengan ijtihad yang luas berdasarkan pada Al-Quran terlebih dahulu. Sehingga, apabila mereka menemukan dalam tumpukan riwayat (hadits) yang sejalan dengan Al-Quran, mereka menerimanya, tetapi kalau tidak sejalan, mereka menolaknya karena Al-Quran lebih utama untuk diikuti.”
Pendapat di atas, tidak sepenuhnya diterapkan oleh ulama-ulama fiqih. Yang menerapkan secara utuh hanya Imam Abu Hanifah dan pengikut-pengikutnya. Menurut mereka, jangankan membatalkan kandungan satu ayat, mengecualikan sebagian kandungannya pun tidak dapat dilakukan oleh hadis. Pendapat yang demikian ketat tersebut, tidak disetujui oleh Imam Malik dan pengikut-pengikutnya. Mereka berpendapat bahwa al-hadits dapat saja diamalkan, walaupun tidak sejalan dengan Al-Quran, selama terdapat indikator yang menguatkan hadis tersebut, seperti adanya pengamalan penduduk Madinah yang sejalan dengan kandungan hadis dimaksud, atau adanya ijma’ ulama menyangkut kandungannya. Karena itu, dalam pandangan mereka, hadis yang melarang memadu seorang wanita dengan bibinya, haram hukumnya, walaupun tidak sejalan dengan lahir teks ayat Al-Nisa’ ayat 24.
Imam Syafi’i, yang mendapat gelar Nashir Al-Sunnah (Pembela Al-Sunnah), bukan saja menolak pandangan Abu Hanifah yang sangat ketat itu, tetapi juga pandangan Imam Malik yang lebih moderat. Menurutnya, Al-Sunnah, dalam berbagai ragamnya, boleh saja berbeda dengan Al-Quran, baik dalam bentuk pengecualian maupun penambahan terhadap kandungan Al-Quran. Bukankah Allah sendiri telah mewajibkan umat manusia untuk mengikuti perintah Nabi-Nya?
Harus digarisbawahi bahwa penolakan satu hadis yang sanadnya sahih, tidak dilakukan oleh ulama kecuali dengan sangat cermat dan setelah menganalisis dan membolak-balik segala seginya. Bila masih juga ditemukan pertentangan, maka tidak ada jalan kecuali mempertahankan wahyu yang diterima secara meyakinkan (Al-Quran) dan mengabaikan yang tidak meyakinkan (hadis).

Pemahaman atas Makna Hadis

Seperti dikemukakan di atas, hadis, dalam arti ucapan-ucapan yang dinisbahkan kepada Nabi Muhammad saw., pada umumnya diterima berdasarkan riwayat dengan makna, dalam arti teks hadis tersebut, tidak sepenuhnya persis sama dengan apa yang diucapkan oleh Nabi saw. Walaupun diakui bahwa cukup banyak persyaratan yang harus diterapkan oleh para perawi hadis, sebelum mereka diperkenankan meriwayatkan dengan makna; namun demikian, problem menyangkut teks sebuah hadis masih dapat saja muncul. Apakah pemahaman makna sebuah hadis harus dikaitkan dengan konteksnya atau tidak. Apakah konteks tersebut berkaitan dengan pribadi pengucapnya saja, atau mencakup pula mitra bicara dan kondisi sosial ketika diucapkan atau diperagakan? Itulah sebagian persoalan yang dapat muncul dalam pembahasan tentang pemahaman makna hadis.
Al-Qarafiy, misalnya, memilah Al-Sunnah dalam kaitannya dengan pribadi Muhammad saw. Dalam hal ini, manusia teladan tersebut suatu kali bertindak sebagai Rasul, di kali lain sebagai mufti, dan kali ketiga sebagai qadhi (hakim penetap hukum) atau pemimpin satu masyarakat atau bahkan sebagai pribadi dengan kekhususan dan keistimewaan manusiawi atau kenabian yang membedakannya dengan manusia lainnya. Setiap hadis dan Sunnah harus didudukkan dalam konteks tersebut.
Al-Syathibi, dalam pasal ketiga karyanya, Al-Muwafaqat, tentang perintah dan larangan pada masalah ketujuh, menguraikan tentang perintah dan larangan syara’. Menurutnya, perintah tersebut ada yang jelas dan ada yang tidak jelas. Sikap para sahabat menyangkut perintah Nabi yang jelas pun berbeda. Ada yang memahaminya secara tekstual dan ada pula yang secara kontekstual.
Suatu ketika, Ubay ibn Ka’ab, yang sedang dalam perjalanan menuju masjid, mendengar Nabi saw. bersabda, “Ijlisu (duduklah kalian),” dan seketika itu juga Ubay duduk di jalan. Melihat hal itu, Nabi yang mengetahui hal ini lalu bersabda kepadanya, “Zadaka Allah tha’atan.” Di sini, Ubay memahami hadis tersebut secara tekstual.
Dalam peperangan Al-Ahzab, Nabi bersabda, “Jangan ada yang shalat Ashar kecuali di perkampungan Bani Quraizhah.” Sebagian memahami teks hadis tersebut secara tekstual, sehingga tidak shalat Ashar walaupun waktunya telah berlalu –kecuali di tempat itu. Sebagian lainnya memahaminya secara kontekstual, sehingga mereka melaksanakan shalat Ashar, sebelum tiba di perkampungan yang dituju. Nabi, dalam kasus terakhir ini, tidak mempersalahkan kedua kelompok sahabat yang menggunakan pendekatan berbeda dalam memahami teks hadis.
Imam Syafi’i dinilai sangat ketat dalam memahami teks hadis, tidak terkecuali dalam bidang muamalat. Dalam hal ini, Al-Syafi’i berpendapat bahwa pada dasarnya ayat-ayat Al-Quran dan hadis-hadis Nabi saw., harus dipertahankan bunyi teksnya, walaupun dalam bidang muamalat, karena bentuk hukum dan bunyi teks-teksnya adalah ta’abbudiy, sehingga tidak boleh diubah. Maksud syariat sebagai maslahat harus dipahami secara terpadu dengan bunyi teks, kecuali jika ada petunjuk yang mengalihkan arti lahiriah teks.
Kajian ‘illat, dalam pandangan Al-Syafi’i, dikembangkan bukan untuk mengabaikan teks, tetapi untuk pengembangan hukum. Karena itu, kaidah al-hukm yaduru ma’a illatih wujud wa ‘adam,115 hanya dapat diterapkan olehnya terhadap hasil qiyas, bukan terhadap bunyi teks Al-Quran dan hadis. Itu sebabnya Al-Syafi’i berpendapat bahwa lafal yang mengesahkan hubungan dua jenis kelamin, hanya lafal nikah dan zawaj, karena bunyi hadis Nabi saw. menyatakan, “Istahlaltum furujahunna bi kalimat Allah (Kalian memperoleh kehalalan melakukan hubungan seksual dengan wanita-wanita karena menggunakan kalimat Allah)”, sedangkan kalimat (lafal) yang digunakan oleh Allah dalam Al-Quran untuk keabsahan hubungan tersebut hanya lafal zawaj dan nikah.
Imam Abu Hanifah lain pula pendapatnya. Beliau sependapat dengan ulama-ulama lain yang menetapkan bahwa teks-teks keagamaan dalam bidang ibadah harus dipertahankan, tetapi dalam bidang muamalat, tidak demikian. Bidang ini menurutnya adalah ma’qul al-ma’na, dapat dijangkau oleh nalar. Kecuali apabila ia merupakan ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan perincian, maka ketika itu ia bersifat ta’abbudiy juga. Teks-teks itu, menurutnya, harus dipertahankan, bukan saja karena akal tidak dapat memastikan mengapa teks tersebut yang dipilih, tetapi juga karena teks tersebut diterima atas dasar qath’iy al-wurud. Dengan alasan terakhir ini, sikapnya terhadap teks-teks hadis menjadi longgar. Karena, seperti dikemukakan di atas, periwayatan lafalnya dengan makna dan penerimaannya bersifat zhanniy.
Berpijak pada hal tersebut di atas, Imam Abu Hanifah tidak segan-segan mengubah ketentuan yang tersurat dalam teks hadis, dengan alasan kemaslahatan. Fatwanya yang membolehkan membayar zakat fitrah dengan nilai, atau membenarkan keabsahan hubungan perkawinan dengan lafal hibah atau jual beli, adalah penjabaran dari pandangan di atas. Walaupun demikian, beliau tidak membenarkan pembayaran dam tamattu’ dalam haji, atau qurban dengan nilai (uang) karena kedua hal tersebut bernilai ta’abudiy, yakni pada penyembelihannya.
Demikianlah beberapa pandangan ulama yang sempat dikemukakan tentang hadis.

Senin, 19 Desember 2011

Ayat Kursi, Arti dan Manfaat/Keutamaannya dalam Huruf Latin

Ayat Kursi, Arti dan Manfaat/Keutamaannya dalam Huruf Latin
Bacaan sesuai terjemahan biasa dari huruf arab ke huruf latin :

ALLAHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QAYYUMU. LAA TA'KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDHI. MAN DZAL LADZII YASFA'U 'INDAHUU ILLAA BI IDZNIHI. YA'LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHALFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN 'ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI'A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDHA. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL 'ALIYYUL AZHIIM.
Bacaan sesuai terjemahan sesuai lafal dari huruf arab ke huruf latin :
ALLOHU LAA ILAAHA ILLA HUWAL HAYYUL QOYYUM. LAA TA'KHUDZUHUU SINATUW WA LAA NAUUM. LAHUU MAA FISSAMAAWAATI WA MAA FIL ARDH. MAN DZAL LADZII YASFA'U 'INDAHUU ILLAA BI IDZNIH. YA'LAMU MAA BAINA AIDIIHIM WA MAA KHOLFAHUM. WA LAA YUHITHUUNA BI SYAI-IN MIN (dengung) 'ILMIHII ILLAA BI MAASYAA-A. WASI'A KURSIYYUHUSSAMAAWAATI WAL ARDH. WA LAA YA-UDHUU HIFZHUHUMAA WAHUWAL 'ALIYYUL AZHIIIM.
Artinya :
Allah tidak ada Tuhan melainkan Dia yang Maha Kekal lagi terus menerus mengurus makhlukNya, tidak mengantuk dan tidak tidur KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Siapakah yang dapat memberi syafa'at di sisi Allah tanpa izinNya? Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang meraka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi, Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS : Al-Baqarah : 255)

Keutamaan, kegunaan, manfaat, syafaat, keajaiban, keistimewaan dari ayat kursi surat al-baqoroh ayat 255 antara lain adalah :
- Dapat mendatangkan hajat bila dibaca 100 kali pada waktu tengah malam setelah melakukan shalat sunat hajat.
- Dapat mengusir, menghilangkan dan menghindar dari gangguan jin, syetan/setan, makhluk ghoib, makhluk halus dan sebangsanya serta gannguan dari orang-orang zhalim. Bacalah ayat kursi pada setiap permulaan siang dan malam hari.
- Menyembuhkan orang gila dan kerasukan/kesurupan dengan cara membaca 11 kali pada orang gila dengan sambil ditiup-tiupkan.
- Penyembuhan segala macam penyakit dengan menulis ayat kursi pada wadah air minum seperti gelas, mangkuk, cangkir, kendi, piring, dan lain-lain.